Oleh, Endang Mulyawan Jurnalis Media Reportikaindonesia.com.
Reportikaindonesia.com // Banten – Pasca idul fitri 1447H/2026 disadari atau tidak, disukai ataupun tidak, fenomena regulasi kebijakan publik akan menjadi refleksi indikator teknis mengawal negeri ini menuju Indonesia Emas 2045. Tangerang, 23 Maret 2026.
Peraturan perundang-undangan yang mengatur negeri untuk lebih baik sarat dengan bab, pasal dan sanksi sedemikian disusun untuk membawa pemerintahan yang good governance, bukan lagi merupakan hal yang tabu bahkan di era transformasi digitalisasi informasi ini, seringkali ter-amandemen draft peraturan baru terlahir dari sebuah peristiwa yang viral dan fenomenal, anehnya substansi itu ditemukan saat sulit mencari urgensitas alasan kuat perubahan.
Demikian pula perilaku korupsi di tanah air bisa menyentuh kepada siapa saja tanpa terkecuali, sebab perilaku tersebut dapat diduga berasal dari kesalahan me-refleksikan suatu peristiwa atau kejadian karena tidak disertai spesifikasi teknis sebagai penegakan diagnosa perilaku korupsi.
Dalam konteks makna Idul Fitri, diharapkan tidak semata hanya moment saling memaafkan dan mempererat silaturahim saja, namun seberapa besar kemampuan personal me- refleksikan deretan peristiwa menjadi sebuah maklumat dan fakta integritas menuju perubahan karakter menjadi lebih baik.
Me-refleksi itu sebuah akumulasi dari stimulus susunan syaraf sensorik yang terimplementasi pada aplikasi susunan saraf motorik, apapun itu. Sehingga ini menjadi sangat penting untuk para pengambil kebijakan dan keputusan strategis yang terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Diwaktu sebentar lagi kita memasuki area agen perubahan negeri ini, Work From Home sudah digaungkan, metode daring satuan pendidikan siap dilaksanakan, kebijakan energi siap ber efesiensi untuk bertahannya negeri ini.
Oleh sebab itu refleksi tidak korupsi menjadi harga mati, jadikan puasa sebulan penuh yang diakhiri dengan idul fitri 1447H/1026 ini sebagai penguat sekaligus maklumat personal untuk mengawal Indonesia Emas Tahun 2045, kalo tidak diawali oleh diri sendiri, lalu oleh siapa lagi, jika tidak dimulai saat ini, kapan lagi.
(Korwil Banten: Endang Mulyawan)



