Oleh, Endang Mulyawan Jurnalis Reportikaindonesia.com.
Reportikaindonesia.com // Lebak, Banten – Menempatkan kecerdasan emosional (Emotional Quotient) dalam perspektif kepemimpinan, jika disandingkan dengan Gaya Kepemimpinan yang diperankan, bisa saja muncul secara spontanitas yang berasal dari stimulus respon pada saat yang bersamaan, sehingga output yang dihasilkan dominan menggambarkan kondisi yang sebenarnya saat itu terjadi.
Perhelatan argumentasi politik pada ruang publik antara Bupati dan Wakil nya saat momentum Halal Bil Halal pada 30 Maret 2026 di Gedung Pendopo Kabupaten Lebak memunculkan banyak persepsi dan opini publik. Lebak, 31 Maret 2026.
Jurnalis Endang Mulyawan, menyampaikan bahwa sebenarnya kedua nya baik Bupati maupun Wakil nya tidak dulu mengakumulasi respon stimulus yang terjadi secara spontan di area publik jika saja kemampuan kecerdasan spiritual nya melebihi rata-rata kemampuan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.
Menurutnya bahwa diantara kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual ada kecerdasan spiritual yang mampu meredam saat EQ dan IQ berada pada.level id dan super ego dalam kondisi yang labil.
Suhu EQ dan IQ yang terindikasi lebih rendah prosentsinya dibanding SQ memiliki kecenderungan berada pada level belum aman, kecuali SQ membersamai prosentase yang proporsional antara EQ dan IQ.
Saya menjamin jika siapapun kita terlebih para tokoh publik lebih mengedepankan Spiritual Quotien (SQ) dalam setiap pengambilan keputusan, kebijakan dan statemen dibandingkan EQ dan IQ nya insya Allah akan berakhir damai dan kondusif.
Penerapanan Leadership Manajerial Capacity Building dalam sebuah tim kerja akan lebih berhasil jika dijunjung tinggi trust (kepercayaan) yang tinggi pula, sehingga apapun hasilnya bisa di evaluasi bersama untuk melakukan perubahan yang lebih baik ke depan.
(Korwil.Banten: Endang Mulyawan)



