Reportikaindonesia.com // Bogor, Jawa Barat – Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Jawa Barat (Kanwil HAM Jabar) melakukan respons cepat terkait insiden tawuran pelajar yang terjadi di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan melakukan pemantauan ke lokasi, meminta informasi pihak-pihak terkait serta berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor pada 23-25 April 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memastikan prinsip Penghormatan, Perlindungan, Pemenuhan, Penegakan, dan Pemajuan HAM (P5HAM) tetap terjaga di tengah masyarakat. Kanwil HAM Jabar bersama Pemerintah Kabupaten Bogor dan instansi terkait mendorong penyelesaian kasus tersebut secara sistematis dan persuasif demi menjaga stabilitas keamanan di wilayah Jawa Barat.
“Pertemuan ini menjadi sorotan serius karena kejadian kekerasan antar pelajar ini mencerminkan kondisi darurat dalam penanganan kekerasan di kalangan pelajar usia dini” ujar Kepala Kanwil Kemenham Jabar Hasbullah Fudail. Kanwil Kemenham Jabar telah melakukan koordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor, Polres Kabupaten Bogor, MTs Darussalam, SMP Yafahi, serta kepada orang tua korban untuk memitigasi potensi pelanggaran HAM. Tim penanganan pengaduan telah melakukan verifikasi lapangan serta audiensi selama tiga hari (23-25 April 2026) untuk memverifikasi akar permasalahan. “Kami telah melakukan verifikasi ke lapangan serta menerima keterangan langsung dari orang tua korban yang menyayangkan kejadian tersebut terjadi,” Ujar Hasbullah.
Kasus yang dibahas melibatkan siswa dari MTs Darussalam, SMP Pelita, dan SMP Yafahi Dramaga sebagian berasal dari sekolah berbasis Islam yang seharusnya menjadi lingkungan pembinaan moral dan karakter. Fakta bahwa kekerasan justru muncul dari lingkungan tersebut memperlihatkan adanya persoalan mendasar dalam pengawasan, pendidikan nilai, dan pengaruh eksternal terhadap peserta didik.
“Lebih mengkhawatirkan, para pelaku masih berada di jenjang SMP, usia yang tergolong sangat muda dan rentan terhadap pengaruh negatif. Tawuran yang direncanakan melalui media sosial ini tidak lagi sekadar perkelahian biasa, melainkan telah berkembang menjadi aksi kekerasan terorganisir” Ujar Hasbullah.
Kanwil Kementerian HAM Jawa Barat menilai bahwa tingkat kekerasan dalam kasus ini juga tergolong ekstrem. Penggunaan senjata tajam dan cara penyerangan yang sadis hingga menyebabkan korban meninggal dunia menunjukkan adanya degradasi nilai kemanusiaan di kalangan pelajar. Hal ini menandakan bahwa persoalan tawuran tidak bisa lagi dipandang sebagai kenakalan remaja biasa, melainkan sebagai ancaman serius terhadap keselamatan dan masa depan generasi muda.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat menegaskan pentingnya pendekatan preventif yang lebih kuat dan terintegrasi. Penanganan tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pada pembinaan, edukasi, serta penguatan peran keluarga dan sekolah.
Pihak kepolisian Polres Kabupaten Bogor menyoroti adanya faktor eksternal, seperti dugaan pengaruh peredaran obat-obatan terlarang yang turut memicu perilaku agresif pada anak. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama lintas instansi untuk menjalankan program pencegahan yang lebih komprehensif, yang direncanakan mulai berjalan pada awal Mei.
Di lapangan diketemukan bahwa atas dasar pertimbangan kondusifitas dari Kepala Desa Petir pertemuan antara MTs Darussalam dan SMP Yafahi pasca kejadian belum terlaksana. Kepala Kantor wilayah Kementerian HAM Jawa Barat menghimbau agar pertemuan antara MTs Darussalam dan SMP Yafahi tersebut segera dilaksanakan dengan difasilitasi oleh pihak pemerintah setempat agar mengklarifikasi berita miring di lapangan bahwa tidak ada permasalahan antara para siswa kedua sekolah tersebut serta dapat membahas langkah-langkah Bersama dan solutif selanjutnya.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat juga menawarkan kolaborasi dengan Kementerian Agama Kabupaten Bogor, dan Satuan Reserse Pelayanan Perempuan dan Anak Serta Perlindungan Perempuan dan Orang Tua Polres Kabupaten Bogor dalam bentuk penguatan HAM bagi pelajar dan masyarakat dilingkungan Kabupaten Bogor.
Kanwil Kementerian HAM Jawa Barat akan terus berkomitmen untuk mengawal proses penyelesaian kasus kekerasan antar pelajar di Kabupaten Bogor. Kanwil Kementerian HAM Jawa Barat juga meminta sinergi berkelanjutan antara Pemkab Bogor, Kemenag, pihak sekolah dan aparat keamanan untuk menyelesaikan masalah ini secara sistematis dan persuasif. “Melalui langkah bersama secara sistematis dan persuasif, diharapkan kasus serupa tidak terulang. Anak-anak yang terlibat perlu mendapatkan pembinaan yang tepat agar tidak kehilangan masa depan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kondisi tawuran pelajar di Jawa Barat telah memasuki tahap darurat yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan” pungkas Hasbullah.
• Red



