Ingkar Janji Perusahaan Perkebunan Sawit di Desa Asih Pulau Rimau Banyuasin

Reportikaindonesia.com //Banyuasin, Sumatera Selatan – Dengan sedikit demi sedikit membeli lahan tanah demi untuk tabungan yang akan diberikan kepada anak-anaknya, untuk bekal dimasa depan, Hamzah salah satu warga Desa Budi Asih Kecamatan Pulau Rimau Banyuasin, malah harus menanggung derita karena terhimpitnya ekonomi.
Pasalnya, tanah yang dibelinya sejak 1996 hingga terkumpul seluas 340 hektare di Desa Asih Kecamatan Pulau Rimau Banyuasin, malah direbut perusahaan perkebunan sawit.

Menurut pengakuan kedua anak Hamzah, Bambang Sugiharto dan Endang, awalnya bapak mereka mengadakan MOU dengan perusahan perkebunan sawit, Lahan mereka seluas 340 hektare digunakan perusahaan perkebunan sawit dengan sistem bagi hasil.

“Karena awalnya ada sistem bagi hasil untuk perusahaan 70 persen dan kami 30 persen, bapak mau MOU itu dilaksanakan bersama PT.CLS pada tahun 2014. Bagi hasilnya mulai tahun 2017, tapi kenyataannya setelah lahan itu menghasilkan, sama sekali tidak pernah diberikan bagi hasil tersebut sampai sekarang,” kata Gatot selaku anak, Minggu (11/9/2022). Setelah ditemui awak media. “Ditambah lagi kami diminta untuk menyerahkan surat surat tanah oleh pihak perusahaan dan oknum aparatur desa.” Tambahnya.

Keluarga Hamzah termasuk anak-anaknya, telah mencoba berulang kali untuk meminta hak mereka kepada pihak perusahaan. Akan tetapi, sama sekali tidak dipedulikan bahkan diabaikan, dari mou bagi hasil dari perusahaan perkebunan sawit itu, sampai sampai Hamzah tidak bisa menyekolahkan ketujuh anaknya, dikarenakan tak sesuai dengan harapan.

Ketujuh anaknya malah harus putus sekolah dan harus bekerja membantu perekonomian keluarga. Parahnya lagi, ternyata pihak perusahaan bekerjasama dengan oknum-oknum di desa berusaha menguasai lahan milik Hamzah.

“Kami berupaya mencari keadilan, tetapi malah kami yang diintimidasi. Sampai-sampai sekarang bapak kami jatuh sakit, karena kerap kali diintimidasi. Entah orang-orang dari mana, kami juga tidak tahu.”sambungnya.

Saat kuasa hukum keluarga Hamzah yakni adv Hj Lelawati Lawe bersama rekan-rekannya adv Palti Hultagaol, adv Sugito, adv Martinus, adv Dienda, adv Rahmawati adv Joshua, dan adv Sudarman mengatakan pihaknya dengan hati nurani ingin membantu keluarga Hamzah. Terlebih, ketika mendatangi rumah Hamzah yang sangat memprihatinkan.

Seharusnya lahan seluas 340 hektare berharap bisa memberikan kehidupan yang layak, saat ini malah membuat keluarga Hamzah menjadi kesusahan. Anak-anak Hamzah malah tidak bisa melanjutkan pendidikan.

“Dilahan seluas 340 hektare itu, sudah dipecah menjadi 170 sertifikat. Kami sebagai kuasa hukum saja, sedih melihat kondisi ini. Bagaimana oknum-oknum ini, seperti tidak ada hati nurani. Sudah tidak dapat haknya dari bagi hasil, lahannya mau dikuasai dan keluarganya ini malah diintimidasi agar tak melakukan apa-apa,” i ujar Hj Lelawati ketika ditemui dikantornya

Lanjut Hj Lelawati, pihaknya sudah mengajukan gugatan kesejumlah pihak baik itu perusahaan dan pihak terkait lainnya di desa. Hal ini, bertujuan untuk mengembalikan hak dari keluarga Hamzah terkait MOU yang sudah dilakukan pada tahun 2014 lalu.

Disisi lain lanjut Hj Lelawati, timnya juga sudah melaporkan ke Polda Sumsel beberapa oknum yang ada di desa baik itu yang ingin menguasai lahan milik Hamzah dengan cara-cara yang tak terpuji.

“Kami dari Jakarta, sudah siap untuk sidang tetapi dari tergugat sepertinya terus mengalur waktu. Salah satunya dengan datang terlambat ke sidang, sehingga sidang harus diundur. Kenapa dan ada apa,” ungkapnya.

Hj Lelawati berharap, perkara perdata yang mereka ajukan ini, bisa betul-betul memiliki keadilan bagi masyarakat terutama untuk keluarga Hamzah. Sudah cukup bagi keluarga Hamzah yang dipermainkan, hingga anak-anak Hamzah tak bisa melanjutkan pendidikan.

Selain itu, perekonomian keluarga Hamzah yang jadi morat marit, karena selalu diintimidasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini, agar bisa menguasai lahan milik Hamzah dan keluarganya.

“Pak Hamzah ini perlu keadilan, karena selama ini sudah sangat dizalimi. Mereka tidak bisa apa-apa, jadi tolonglah untuk pihak terkait baik itu tentang perdata dan pidananya, pakai hati nurani ketika bekerja. Jangan sampai ada kepentingan, kasihan sudah keluarga ini, Bila nantinya di Sumsel tetap tidak bisa mendapatkan keadilan bagi keluarga Hamzah, maka pihaknya akan meminta keadilan sampai ke pusat.” Tegasnya.

( Syuri/Red )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *