Teatrikal Bertema Kekuasaan dan Kehancuran Dibawakan IWO Indonesia Saat Aksi di Kemendagri

Reportikaindonesia.com // Jakarta – Di tengah aksi damai dengan orasi silih berganti dalam solidaritas wartawan menuntut keadilan untuk seorang wartawan dan seorang penggiat media sosial yang diduga dipersekusi oleh oknum pejabat pemkab Karawang.

Sekitar 500an jurnalis tumpah ruah menggelar aksi, berasal dari beragam organisasi media dan wartawan seperti ,IWO Indonesia DPD Karawang serta DPD daerah Garut, Tasik, Bandung, Bekasi dan IWO Indonesia DPP Jakarta, serta wartawan Karawang yang tergabung dalam sebuah forum, diantaranya Jawara, Ajib, Moi, dan lain-lain dan dari beberapa kota lain termasuk Jakarta sendiri, yakni FWJ.

Dalam kesempatan tersebut ,Tampil salah seorang personil IWO Indonesia DPD Karawang.

Jurnalis bernama Junaedi naik ke ‘mobil komando’ membawakan ‘Teatrikal’ dengan tema jeritan puisi “Tubuh Sebagai Peta Konflik” dan diiringi 2 orang personil menulisi tubuh sang jurnalis dengan bebasnya.

Aksi digelar di depan gedung Kementerian Dalam Negeri RI, jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, kamis (29/09/2022) berlangsung tenang, dengan pengawalan ketat aparat Polri.

Teatrikal yang cukup menyedot perhatian audiens dan khalayak yang berlalu-lalang itu amat menggetar dan berapi-api.

“Tubuh adalah peta konflik yang abadi // Ia bisa menggetar menggeliat // Ia bisa mengundang hasrat kekuasaan // Ia akan bisa jadi mesin penghancur // bahkan menghancurkan otak di dalamnya // Yang tengah berkuasa …” berikut penggalan isi puisi yang dibawakan Junaedi.

“Sebuah kritik atas kerendahan mental juga moral dari sebuah kekuasaan yang menguasai personal yang sedang berkuasa, menjabat dalam satu institusi maupun lembaga. Amat berbahaya jika itu tak dikendalikan nalar sehat (spiritual) dan pemahaman kemanusiaan (humanisme),” tutur Junaedi menjelaskan makna yang tersirat dari teatrikal yang dibawakannya.

Menurut Junaedi ,Isi puisi dalam teatrikal tersebut tidak menghujat siapapun, seni tidak untuk menyebar kebencian ,namun menggedor siapa saja yang dalam kesadarannya ingin disebut mahluk manusia.

“Lantaran sejatinya hidup adalah melihat sisi kemanusiaan dalam segala aspek dan nalarnya serta praktek dan kesadarannya, mengawal sebuah jabatan atawa kekuasaan biar nggak jadi ‘Ubermens’!,” pungkasnya.

(*/Darmawan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *