MEMBUMIKAN TASAWUF UNTUK GENERASI MILENIAL DI MOMENT RAMADHAN

Oleh: Hasbullah Fudai. ( Pencinta Tasawuf)

Reportikaindonesia.com //Bandung, Jawa Barat – Momentum Ramadhan Tahun 1445 H untuk memulai awal puasa, kembali terjadi perbedaan waktu antara Muhammadiyah dengan pemerintah.

Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada hari Ahad 11 April 2024, sementara pemerintah Senin, 12 April 2024. Kondisi ini menegaskan bahwa bangsa ini harus semakin dewasa untuk menerima perbedaaan dalam menjalankan berbagai rutinitas ibadah.

Terkadang masyarakat awam bertanya siapa yang benar dan salah dalam menjalankan ketetapan awal Ramadan ?. Kewajiban para ulama dan kaum terdidik bukan memilih antara benar dan salah dalam memberi penjelasan dan memahami cara beragama yang baik, tetapi menjelaskan kenapa terjadi perbedaan dalam aktualisasi ajaran agama khususnya ibadah serta apa landasan dari masing-masing kelompok. Dengan demikian perbedaan yang terjadi akibat landasan dan teori yang digunakan sehingga tercipta rasa saling menghargai dan menghormati atas perbedaan tersebut.

Dalam kehidupan nyata, perbedaan menjadi suatu kenyataan dan tidak bisa dihindari dari realitas kehidupan karena sesungguhnya perbedaan adalah suatu keniscayaan. Perbedaan hendaknya dimaknai sebagai suatu keseimbangan yang perlu disikapi khususnya dalam berkeyakinan. Sekat sekat akibat adanya perbedaaan baiknya dijadikan jembatan menjalin kebersamaan dalam membina hubungan antar manusia (hablun minannas) baik sesama internal islam maupun external dengan ummat lainnya.

Momentum Ramadhan menjadi waktu strategis untuk mengenalkan dan membumikan tasawuf bagi kalangan generasi muda khususnya kaum milennial. Saat ini jumlah generasi milenial di Indonesia diatas 80 %, kehidupannya tidak terlepas dari teknologi informasi digitalisasi. Digitalisasi ialah proses perubahan dari bentuk analog ke bentuk digital. Horváth dan Szabó memandang digitalisasi sebagai otomatisasi proses melalui teknologi informasi.

Munculnya digitalisasi di setiap sektor kehidupan menjadikan generasi milenial memainkan peranan yang signifikan dalam mempelajari dan memahami islam. Akses mereka terhadap dunia digital memudahkan mereka dalam mempelajari apapun, termasuk didalamnya tentang Islam. Sayangnya motivasi belajar agama melalui dunia maya lebih berorientasi pada persoalan fikih dan tauhid semata dibanding tasawuf. Generasi milenial lebih fokus pada pencariannya tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dan tidak, dan mana yang halal dan mana yang haram.

Jika generasi milenial tidak diberi pembelajaran ilmu tasawuf, maka generasi ini dikhawatirkan tidak akan meraih dan memahami ajaran islam secara utuh (kaffah). Islam kaffah atau Islam komprehensif adalah Islam yang mengatur seluruh kegiatan di dunia. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan (hablum minallah) yang dilaksanakan melalui ritual ibadah berupa shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya termasuk tasawuf.

Hasil temuan beberapa riset menunjukkan bahwa kebanyakan remaja saat ini akbat kemajuan teknologi memiliki sikap asosial yang dapat menimbulkan permasalahan remaja. Sikap asosial sendiri mengacu pada kurangnya dorongan untuk terlibat interaksi dan cenderung mengandalkan berbagi macam teknologi yang ada disekitarnya untuk melakukan interaksi. Hal ini bertolak belakang dengan hakekat manusia yang merupakan makhluk sosial.

Sikap asosial lebih mementingkan dirinya sendiri dengan merasa selalu benar. Hal tersebut menjadikan remaja kurang memelihara tingkah laku dalam menjalankan kehidupan sosialnya dengan nilai dan norma sosial yang seharunya menjadi acuan dalam bertingkah laku.

Pendekatan Tasawuf untuk Generasi Milenial
Jika ingin membidik kaum millenial dalam mengenalkan dan membumikan tasawuf maka beberapa strategi yang perlu dilakukan antara lain :

  1. Meluruskan Kesalahpahaman Tasawuf
    Munculnya Gerakan anti tasawuf serta penyamaan tasawuf dengan ilmu kebatinan menjadi pekerjaan yang harus diluruskan oleh para pencinta tasawuf untuk menjernikan kesalahpahaman terhadap inti tasawuf. Generasi milenial sangat kritis atas berbagai informasi yang berkembang, sehingga diperlukan konter opini yang dikampayekan untuk memberi penjelasan yang berimbang .
    Beberapa pandangan negatif dari para pengamal tasawuf lebih berburu Ijazah Wirid daripada pengamalan . Padahal berzikir bukanlah sekedar ijazah melaksanakan wirid/zikir tapi lebih dari itu mencakup membersihkan wadah sebelum berzikir dan sesudahnya, berupa hati yang tercerahkan dan menyinari lingkungan sekitarnya. Menimbulkan kemalasan, beberapa pelaku tasawuf karena salah paham, urusan dunia diabaikan dengan mementingkan urusan akhirat. Akibat tidak dibimbing guru/musryd, bisa berdampak kelainan Kejiwaan. Kultus berlebihan terhadap Guru/Mursyid (petuah, cium tangan,ziarah dan lain-lain) bisa dianggap syirik para pembenci tasawuf. Untuk menghindari kesalahpahaman pengetahuan tasawuf dapat dilakukan dengan : a.Bertanya kepada orang yang tepat/ahli dibidangnya, b. Belajar dan menjalankan agama secara kaffah dan utuh, c, Membersihkan hati agar mampu menerima cahaya Allah . Kesalahpahaman terhadap tasawuf berarti juga salah paham terhadap islam itu sendiri. Karena beranggapan bahwa berislam yang baik sudah cukup dengan ilmu tauhid dan ilmu fiqih tanpa perlu ilmu tasawuf. Sehingga tidak memahami dan menjalankan ajaran islam secara kaffah/utuh/komprehensif.
  2. Pendekatan lebih Kreatif tidak monoton. Menyikapi kehidupan dunia anak milenial yang sangat dinamis dan tidak monoton, maka strategi mengajak mereka untuk lebih mengenal dan melakoni kehidupan tasawuf harus lebih bervariatif dengan menggunakan berbagai kanal media sosial ( Facebook, Ingstagram, Twitter, Whasuf) sesuai dengan kecenderungan generasi ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara garis besar pendidikan tasawuf adalah sarana untuk seseorang mendekatkan diri kepada Allah melalui penyucian jiwa dan hati. Hal ini yang dibutuhkan untuk menghadapi kehidupan modern yang dialami oleh manusia, khususnya para remaja milenial yang dekat dengan dunia teknologi dan internet. Pendidikan tasawuf juga harus masuk dan perlu dikemas dengan pendekatan-pendekatan yang terkini agar relate dengan para remaja milenial. Hai ini demi terciptanya remaja yang mempunyai akhlakul karimah dan menjaga pribadinya dari krisis ruhani.
  1. Memasukkan Tasawuf dalam Pendidikan. Perlunya melakukan pengembangan Pendidikan dengan membuka jurusan tasawuf di pendidkan islam khususnya di Pondok maupun perguruan tinggi baik di negeri maupun swasta. Selain itu pengembangan kurikulum tasawuf dalam mata pelajaran di sekolah dan kampus menjadi hal penting untuk mempercepat sosialisasi ataupun pendidikan Tasawuf Milenial”.
  1. Menampilkan Role Model
    Generasi millenial senantiasa mencari sosok ideal dalam pengembangan jati dirinya, sehingga mengajak mereka melakoni tasawuf diperlukan role model (contoh) untuk ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Saatnya menampilkan kaum muda untuk menjadi role model baik sebagai nara sumber , testimoni, panitia dan lain-lain dalam berbagai kajian tasawuf.

Semoga dengan banyaknya generasi milenial mempelajari dan mengamalkan tasawuf, agama islam tidak dipandang dari aspek lahiriyahnya saja, ada sisi rohani yang justru harus diperhatikan. Kegagalan Barat dalam memajukan peradaban dunia dengan laju perkembangan teknologinya menafikan peran agama, terutama dari sisi rohaninya. Aspek ‘materi’ bagi Barat adalah tujuan dan inti dalam memajukan peradaban dunia. Dampaknya sebagaimana kita lihat, modernitas membawa problem kemanusiaan yang cukup serius khususnya di genarasi muda dalam memahami jatidirinya .
Selain itu berbagai stigmatisasi negatif akibat kedangkalan berpikir terhadap tasawuf semakin membuka mata hati para pembencinya dari sahwasangka bahwa tasawuf sesungguhnya merupakan nilai-nilai yang sudah dipraktekkan Rasulullah dan para sahabatnya dalam masa hidupnya.

• Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *