Reportikaindonesia.com // Jakarta – Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Natalius Pigai menghadiri penutupan Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Tahun 2026 di Jembrana, Bali, Sabtu (6/6/2026). Dalam forum tersebut, Pigai menegaskan bahwa berbagai program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan implementasi nyata pembangunan yang berpihak kepada rakyat kecil.
Dalam pidato kuncinya, Pigai menyampaikan pandangan mengenai pembangunan HAM nasional dalam perspektif pemerintahan saat ini. Ia juga menerima langsung rekomendasi kongres, pernyataan sikap, serta deklarasi dukungan dari kader Gerakan Pemuda Marhaenis terhadap berbagai program pemerintah.
Pigai menyebut dirinya meyakini kepemimpinan Presiden Prabowo sebagai representasi semangat perjuangan Marhaenisme yang diwariskan Presiden pertama RI Soekarno. Menurutnya, berbagai program pemerintah seperti Koperasi Merah Putih, pembangunan kampung nelayan, hingga program Makan Bergizi Gratis menunjukkan orientasi kuat terhadap kesejahteraan masyarakat kecil dan pengurangan kesenjangan sosial.
“Saya semangat karena saya ini penganut Prabowoisme. Saya tahu Pak Prabowo adalah seorang pemimpin yang mengejawantahkan cita-cita luhur ideologi Marhaenisme di Indonesia,” ujar Pigai dalam sambutannya di hadapan peserta kongres.
Lebih lanjut, Pigai menilai pembangunan nasional saat ini memiliki semangat pemerataan kesejahteraan yang sejalan dengan nilai-nilai keadilan sosial. Ia menegaskan bahwa negara harus hadir untuk memperkuat ekonomi rakyat dan menghapus jurang pemisah antara kelompok kaya dan miskin di seluruh Nusantara.
Sementara itu, anggota DPD RI Arya Wedakarna yang turut hadir dalam penutupan kongres menekankan bahwa Marhaenisme harus dimaknai secara kontekstual sesuai perkembangan zaman. Menurutnya, kaum Marhaen masa kini tidak hanya petani dan buruh, tetapi juga mencakup pengemudi ojek online, kurir, pekerja kreatif, pelaku UMKM, hingga berbagai kelompok produktif lainnya yang menopang ekonomi nasional.
Arya Wedakarna juga mengajak kader Gerakan Pemuda Marhaenis untuk terus menjaga semangat Tri Sakti dan memastikan nilai perjuangan Bung Karno tetap hidup melalui kerja politik, sosial, dan kebangsaan yang berpihak kepada rakyat. “Presiden boleh datang dan pergi, gubernur boleh datang dan pergi, tetapi api Marhaenisme harus tetap menyala-nyala,” tegasnya disambut tepuk tangan peserta kongres.
Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis 2026 menjadi momentum konsolidasi kader muda dalam memperkuat semangat kebangsaan, keadilan sosial, serta dukungan terhadap program-program pembangunan yang dinilai berpihak kepada masyarakat kecil dan kelompok produktif di Indonesia.
(Din)



