Gambar kemacetan dijalur karassik pukul 06.45. pagi ini.
Reportikaindonesia.com // Toraja Utara, Sulawesi Selatan – Antrian panjang yang tak kunjung tuntas di “SPBU Karassik”, Rantepao kini berbuntut panjang. Bukan hanya pengendara umum yang dirugikan, puluhan anak sekolah dilaporkan terlambat masuk kelas karena harus ikut terjebak antrian hingga lebih dari satu jam.
Pertanyaan besar pun muncul di tengah masyarakat, Siapa sebenarnya di balik bandelnya SPBU yang jadi biang kerok ini?
Anak Sekolah Jadi Korban, Masuk Kelas Terlambat.
Setiap pagi, pemandangan di depan SPBU Karassik selalu sama. Motor-motor pelajar yang hendak berangkat ke sekolah di SMPN 1 dan 2 Rantepao, SMAN 1 dan SMAN 2 di sekitar Rantepao harus terhenti karena antrian BBM mengular hingga ke badan jalan poros.
“Saya berangkat jam 06.30, harusnya sampai sekolah jam 07.00. Tapi karena SPBU macet, saya baru sampai jam 07.20. Sudah ditandai terlambat oleh guru piket,” ujar Fenty (16), siswa SMA di Rantepao.
Orang tua siswa pun mengeluh. Mereka menyebut keterlambatan ini sudah terjadi hampir seminggu terakhir.
“Kalau begini terus, anak-anak yang jadi korban. SPBU ini bandel sekali, sudah tau jam anak sekolah tapi tidak ada pengaturan,” kata Mama Fenty, warga Karassik.
Dari penelusuran di lapangan dan laporan media Sinyal Tajam, ada tiga dugaan kuat penyebab SPBU Karassik terus bandel dan macet:
1. Alat Lowbat dan Nosel Mati Dibiarkan
Dari 4 nosel Pertalite, hanya 2 yang berfungsi. Alasannya klise: alat EDC dan mesin nosel lowbat. Ironisnya, kondisi ini dibiarkan berhari-hari tanpa perbaikan cepat.
2. Dugaan Pelangsir BBM Bebas Keluar Masuk.
Warga dan laporan Sinyal Tajam menyebut ada mobil dan motor yang bolak-balik mengisi BBM dengan jerigen dan tangki modifikasi. Diduga ada pembiaran dari oknum petugas.
“Ada mobil Avanza hitam yang hampir tiap hari isi full, pakai jerigen di belakang. Masa petugas tidak lihat?” ungkap warga.
3. Manager Bungkam dan Terkesan Kebal saat dikonfirmasi, Manager SPBU Karassik selalu bungkam, menolak diwawancara, dan melempar tanggung jawab ke Pertamina. Sikap tertutup ini membuat warga curiga ada yang ditutupi dan SPBU merasa kebal dari teguran.
Masyarakat kini mendesak Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi dan Aparat Penegak Hukum (APH) Toraja Utara tidak tutup mata.
“Jangan hanya tegur. Cabut saja izinnya kalau memang bandel. Ini sudah merugikan anak sekolah, merugikan masyarakat banyak,” tegas Rusmain SH, MH.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan tegas dari Pertamina. SPBU Karassik masih beroperasi dengan nosel terbatas, sementara antrian panjang masih terjadi setiap pagi di jam sibuk anak sekolah.
Siapa yang melindungi SPBU bandel ini hingga berani bungkam dan terus bikin macet?
(Sal)



