Reportikaindonesia.com // Toraja Utara, Sulawesi Selatan – Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) DPC Toraja Utara bersama Pemerintah Kabupaten Toraja Utara akan menggelar Toraja Highland Festival (THF) 2026 pada 5–7 November 2026 di Buntu Pune. Mengusung tema “Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntu Pune”, festival tahun ini mengedepankan kolaborasi dengan masyarakat adat sebagai upaya melestarikan budaya Toraja sekaligus mengembangkan potensi pariwisata daerah.
Persiapan kegiatan tersebut disampaikan dalam konferensi pers bersama insan media dan pemangku kepentingan terkait di Rumah Jabatan Bupati Toraja Utara, Rabu (28/10/2026).
Ketua MASATA DPC Toraja Utara, Damayanti B. Palimbong, S.IP., M.A., menjelaskan bahwa tema tahun ini lahir dari diskusi untuk membangun identitas dan ciri khas Toraja Highland Festival. Mulai tahun ini, MASATA sepakat menjadikan kolaborasi dengan pelaksanaan upacara adat Toraja sebagai salah satu karakter utama festival.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Toraja kepada wisatawan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal, memahami, dan menghargai adat istiadat serta tradisi leluhur.
Ia menilai, pemahaman generasi muda terhadap upacara adat masih perlu diperkuat. Sebagian masyarakat telah mengenal nama-nama ritus adat, tetapi belum sepenuhnya memahami makna, tahapan, dan tata pelaksanaannya.
Karena itu, melalui Toraja Highland Festival, masyarakat diharapkan dapat mempelajari warisan budaya Toraja secara lebih mendalam dengan tetap menghormati nilai-nilai adat yang hidup di tengah masyarakat.
Pada pelaksanaan tahun ini, MASATA berkolaborasi dengan keluarga besar di Buntu Pune untuk mengangkat ritus adat Merok yang berkaitan dengan Tongkonan Potoksia dan Tongkonan Kamiri.
Berdasarkan informasi yang diterima dari pihak terkait, upacara Merok di kawasan tersebut terakhir kali dilaksanakan pada 1972. Dengan demikian, pelaksanaannya kembali setelah sekitar 54 tahun menjadi momentum penting bagi pelestarian dan pendokumentasian budaya lokal.
Damayanti menyampaikan bahwa pihaknya telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan keluarga terkait dan bersyukur karena rencana kolaborasi tersebut mendapat sambutan positif.
Dalam kerja sama ini, pelaksanaan inti upacara adat tetap menjadi kewenangan keluarga penyelenggara. MASATA berperan mendukung penataan acara, pertunjukan, publikasi, dan dokumentasi tanpa mencampuri pelaksanaan ritual maupun mengurangi nilai dan makna adat.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, MASATA juga bekerja sama dengan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja untuk mendokumentasikan rangkaian upacara Merok secara tertulis, mulai dari tahapan awal hingga akhir pelaksanaan.
Dokumentasi tersebut direncanakan menjadi sebuah buku berjudul Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntu Pune. Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, mengingat sumber tertulis mengenai pelaksanaan upacara adat Toraja masih terbatas.
Selain mengangkat ritus adat, THF 2026 akan diramaikan dengan berbagai kegiatan pendukung, antara lain lomba fotografi, pameran foto dan lukisan, serta bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Panitia juga menyiapkan apresiasi bagi lapa-lapa terbaik dalam rangkaian kegiatan adat Merok dengan melibatkan keluarga penyelenggara dan unsur pemerintah setempat dalam proses penilaian.
Rangkaian festival akan berlanjut pada 7 November 2026 melalui kegiatan fun bike atau sepeda santai dengan jarak sekitar 17 kilometer, dari Buntu Pune menuju Alun-Alun. Pada malam harinya, kegiatan akan ditutup dengan pertunjukan seni tari dan musik.
Sementara itu, Ketua Toraja Highland Festival 2026, Marselinus Dua Lembang, S.T., menjelaskan bahwa pelaksanaan festival tahun ini mengedepankan kolaborasi dengan masyarakat adat melalui ritus Merok di Buntu Pune.
Ia mengatakan, sebelum menentukan lokasi kegiatan, panitia terlebih dahulu berdiskusi dengan pemangku adat, keluarga, dan masyarakat setempat untuk memastikan seluruh rangkaian festival dapat dilaksanakan dengan tetap menghormati aturan adat yang berlaku.
Dari hasil diskusi tersebut, rencana pelaksanaan THF di Buntu Pune mendapat sambutan positif dari keluarga besar, masyarakat adat, dan pemerintah setempat.
Menurut Marselinus, pemilihan lokasi tersebut berkaitan dengan pelaksanaan ritus adat Merok dalam rangka peresmian Tongkonan Potoksia dan Tongkonan Kamiri. Kedua Tongkonan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya di Kabupaten Toraja Utara.
Ia berharap penyelenggaraan THF di Buntu Pune dapat memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan. Ke depan, Buntu Pune diharapkan dapat menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan dan festival melalui kolaborasi dengan Dinas Pariwisata, perangkat daerah terkait, pemerintah kabupaten, unsur TNI, serta berbagai pihak lainnya.
Melalui kolaborasi dengan Toraja Highland Festival, kegiatan ini juga diharapkan mampu menarik kunjungan masyarakat dan wisatawan sehingga memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku UMKM.
Oleh karena itu, keberadaan stan dan bazar UMKM diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperluas pemasaran produk lokal sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat selama kegiatan berlangsung.
Marselinus juga mengharapkan dukungan dari rumpun keluarga, masyarakat adat, pemerintah setempat, dan perangkat daerah terkait demi kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Dukungan Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja, kepolisian, dan TNI dinilai penting, khususnya dalam pengaturan lalu lintas, pengamanan, serta pengelolaan area parkir. Koordinasi antarpihak diharapkan dapat memastikan seluruh kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Menutup keterangannya, Marselinus menyampaikan apresiasi kepada insan media atas perhatian dan dukungan dalam menyukseskan Toraja Highland Festival 2026.
Melalui kolaborasi antara festival dan ritus adat, Toraja Highland Festival 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda pariwisata tahunan, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya, penguatan identitas masyarakat adat, pemberdayaan UMKM, serta promosi pariwisata Kabupaten Toraja Utara ke tingkat yang lebih luas.
(*/Sal)



