Reportikaindonesia.com // Bandung, Jawa Barat – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian HAM Jawa Barat, Hasbullah, melakukan kunjungan takziah ke kediaman almarhum Muhammad Fahdly Arjasubrata, pelajar yang menjadi korban dugaan kekerasan sesama pelajar, pada Minggu (15/03/2026).
Didampingi oleh Analis Permasalahan HAM, Irfan Zaelani, serta perwakilan Komunitas Pelajar Pecinta HAM (Koppeta HAM), kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dukungan moril sekaligus menggali informasi mendalam terkait insiden yang merenggut nyawa remaja tersebut di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Jumat malam lalu.
Kedatangan tim disambut langsung oleh orang tua korban, Firdan Arjasubrata dan Weni Wahyuni. Dalam suasana khidmat, Hasbullah menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas tragedi yang terjadi di tengah bulan Ramadan ini.
“Kami hadir untuk menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya. Kehilangan putra tercinta adalah ujian yang sangat berat. Kami berharap keluarga diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam melepas ananda Fahdly,” ujar Hasbullah.
Pihak keluarga menceritakan kronologis memilukan sejak pertama kali menerima informasi korban ditemukan tergeletak di aspal, proses di RS Sariningsih, hingga prosedur visum dan forensik yang harus dijalani sebelum jenazah tiba di rumah duka.
*Pesan Damai dari Hati Orang Tua*
Meski terpukul, kedua orang tua korban menunjukkan kelapangan dada yang luar biasa. Firdan Arjasubrata berharap agar nyawa anaknya menjadi “tumbal” terakhir dari rivalitas semu antar-sekolah.
“Semoga kepergian anak kami menjadi tonggak perubahan bagi kenakalan remaja. Mereka mungkin merasa sedang membela korps atau almamater, bukan murni karena niat jahat, tapi caranya salah. Ini harus dihentikan agar tidak ada lagi orang tua yang merasakan perih yang sama,” ungkap Firdan dengan tegar.
Kendati demikian, demi keadilan dan efek jera, pihak keluarga menegaskan agar proses peradilan pidana tetap dilanjutkan sesuai hukum yang berlaku.
Menanggapi peristiwa ini, Kakanwil Kemenham Jabar, Hasbullah, memberikan catatan keras bagi dunia pendidikan di Jawa Barat. Ia menyebut insiden yang melibatkan siswa sekolah negeri ternama ini sebagai “Lampu Kuning”.
“Kejadian ini sangat mencengangkan dan disayangkan, terutama setelah lima tahun situasi relatif kondusif. Ini terjadi di bulan suci dan melibatkan institusi pendidikan yang seharusnya menjadi teladan,” tegas Hasbullah.
Ia juga menyoroti efektivitas pola pembinaan saat ini. “Pendidikan ala barak militer tampaknya belum memberikan dampak signifikan yang merata terhadap mentalitas pelajar di Jawa Barat. Barangkali perlu ada peningkatan dan evaluasi total terhadap metode penguatan karakter,” tambahnya.
*Langkah Preventif ke Depan*
Sebagai langkah konkret, Kakanwil Kemenham Jabar mengajak orang tua almarhum untuk berkolaborasi dalam program penguatan HAM bagi pelajar. Ke depannya, pihak keluarga diharapkan dapat menjadi motivator atau pemberi testimoni dalam rangkaian sosialisasi anti-kekerasan yang diadakan oleh Kanwil Kemenham Jabar dan Koppeta HAM.
Kunjungan ditutup dengan doa bersama untuk almarhum Muhammad Fahdly Arjasubrata, dengan harapan besar agar semangat kemanusiaan dan perdamaian dapat tumbuh kembali di kalangan generasi muda Jawa Barat.
• Red



