Reportikaindonesia.com // Bekasi , Jawa Barat – Kemarau berkepanjangan semakin memperparah penderitaan para petani di Kampung Babakan Kalencacing, RT 02/RW 02, Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi.
Di tengah sulitnya mendapatkan pasokan air untuk mengairi lahan pertanian, para petani kini harus berjuang keras agar tanaman mereka tetap hidup dan bisa dipanen demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Keterbatasan air membuat para petani terpaksa mencari berbagai cara. Mulai dari membuat bor pantek hingga menggunakan mesin pompa untuk menyedot air demi menyelamatkan tanaman mereka dari kekeringan.
Tak hanya itu, sebagian petani juga mencoba mengubah pola tanam dengan menanam berbagai komoditas lain seperti terong, jagung, semangka dan tanaman lainnya sebagai upaya mempertahankan penghasilan di tengah sulitnya pasokan air.
Namun persoalan yang dihadapi para petani bukan hanya soal kemarau.
Mereka mengaku, sebelumnya wilayah tersebut memiliki saluran air yang mampu mengairi sawah. Bahkan dalam setahun, petani bisa melakukan panen hingga dua atau tiga kali.
Kini kondisi itu tinggal kenangan.
Nurhadi, perwakilan petani sekaligus penggarap sawah, mengungkapkan bahwa akses saluran air yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan pertanian kini sudah tidak lagi berfungsi.
“Dulu sih bagus, Bang. Tanaman padi di sini setahun bisa dua sampai tiga kali panen karena saluran air ada dan lancar.
Semenjak adanya pembangunan perumahan, saluran air hilang dan sudah tertutup. Jadi pemasokan air tidak ada. Panen satu kali saja sudah maksa, hanya berharap air hujan dan air dari kobakan,” ujar Nurhadi kepada awak media, Rabu (2/9/2026).
Kondisi tersebut membuat para petani kini menggantungkan harapan pada turunnya hujan. Saat musim kemarau datang berkepanjangan, lahan pertanian terancam kekeringan dan hasil panen pun menjadi tidak menentu.
Para petani Desa Sukatenang pun berharap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM, dapat memberikan perhatian terhadap persoalan yang mereka alami.
Mereka meminta adanya solusi nyata terkait ketersediaan air dan akses saluran irigasi agar lahan pertanian kembali produktif.
“Kami berharap Pak KDM bisa membantu mencarikan solusi untuk petani di sini, terutama masalah air dan saluran pengairan sawah,” menjadi harapan yang disuarakan para petani.
Para petani berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Sebab, bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan untuk mengairi tanaman, tetapi menjadi penentu keberlangsungan hidup para petani dan masa depan pertanian di wilayah Sukatenang.
Kini, di tengah kemarau yang terus mengeringkan lahan, jeritan petani Sukatenang menunggu jawaban: kapan air kembali mengalir ke sawah mereka?
( Syuri )



