Reportikaindonesia.com // Sangata, Kalimantan Timur – Di tengah dinamika dan isu perpecahan yang melanda warga Toraja di Kalimantan Timur, Ketua Kerukunan Randanbatu, Thomas Pali’, tampil memberikan pesan keras dan tegas.
Ia meminta dengan sangat agar jangan ada perpecahan di antara orang Toraja, baik yang ada di kampung halaman maupun yang ada di perantauan Kaltim.
Pesan persatuan itu disampaikan Ketua Kerukunan Randanbatu yang juga ketua kerukunan sang la’boran saat ditemui di sela-sela pertemuan warga Toraja dan Tour Jurnalis Toraja di Sangata, Sabtu malam (10/10/2026).
“Kita Satu Leluhur, Satu Darah, Jangan Mau Dipecah, Kami dari Kerukunan Randanbatu minta dengan sangat, jangan ada perpecahan di orang Toraja. Kita ini satu leluhur, satu darah, satu tongkonan. Kalau kita pecah, siapa lagi yang mau jaga nama baik Toraja di perantauan?” tegas Ketua Kerukunan Randanbatu dengan nada lantang.
Ia mengatakan, orang Toraja dikenal di seluruh Indonesia sebagai suku yang sangat solid dan kompak, terutama di perantauan. Nilai kekompakan itulah yang membuat orang Toraja dihormati di mana-mana.
“Tapi saya lihat akhir-akhir ini, gara-gara beda pilihan, beda kepentingan, orang Toraja mulai saling menjatuhkan, saling menjelekkan di media sosial. Ini sangat kami sesalkan. Sebagai Ketua Kerukunan Randanbatu, saya minta hentikan semua itu,” ujarnya.
Kerukunan Randanbatu sendiri dikenal sebagai salah satu kerukunan Toraja yang paling kompak di Kaltim. Randanbatu adalah salah satu wilayah besar di Tana Toraja yang warganya banyak merantau ke Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Timur.
“Kami di Randanbatu, walaupun beda kampung, beda gereja, tapi kalau ada acara, kami selalu bersatu. Ada yang meninggal, kami bantu. Ada yang menikah, kami datang.
selanjutnya ada yg meninggal, kami saling membantu, demikian pun syukuran kami saling bahu membahu. Ini tetap kita lestarikan dalam kehidupan kita orang Toraja dimanapun kita berada.
Itu yang harus terus dipelihara oleh semua warga Toraja,” jelasnya.
Ia mengingatkan pepatah adat Toraja yang sangat sakral :
Sang Torayan, Misa’ Kada Di Potuo, Pantan Kada Di Pomate”*
Artinya: Orang Toraja bersatu kita hidup, bercerai kita mati.
“Pepatah itu jangan hanya dihafal, tapi harus dijalankan. Kalau orang Toraja pecah, kita akan mati pelan-pelan, kita akan disepelekan suku lain di perantauan,” tegasnya.
Ketua Kerukunan Randanbatu juga mengajak seluruh kerukunan-kerukunan Toraja lainnya di Kaltim, seperti Kerukunan Sangalla’, Makale, Rantepao, Sesean, dan lainnya, untuk tetap bersatu di bawah payung besar IKAT Provinsi Kaltim.
“IKAT itu induk kita. Kerukunan-kerukunan itu anak-anaknya. Jangan anak mau melawan induk. Semua kerukunan harus bersatu mendukung IKAT Provinsi Kaltim yang sudah sah didukung 10 kabupaten/kota. Kalau kita semua kerukunan bersatu di bawah IKAT, Toraja di Kaltim akan sangat kuat, apalagi menjelang IKN,” ajaknya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda Toraja agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu perpecahan di media sosial.
“Anak muda Toraja, jangan gampang emosi lihat status di Facebook. Tabayyun dulu, tanya dulu kebenarannya. Jangan langsung share yang memecah belah. Kita ini saudara, darah Toraja mengalir di tubuh kita semua,” pesan Ketua Kerukunan Randanbatu.
Pernyataan tegas dari Ketua Kerukunan Randanbatu ini mendapat apresiasi dari warga Toraja yang hadir. Banyak yang setuju bahwa sudah saatnya warga Toraja berhenti bertengkar dan kembali fokus untuk membangun kekompakan di tanah rantau.
(Sal)



