Reportikaindonesia.com // Bandung, Jawa Barat – 12 Oktober 2026. Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemham) Jawa Barat mendorong SMKN 9 Bandung untuk melahirkan Pebisnis berbasis HAM.
Yakni proses bisnis dengan mengedepankan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dalam berbagai pembelajaran dan dalam aktivitas bisnis dimasa depan .
Dorongan tersebut disampaikan Hasbullah ketika mengunjungi berbagai lini pembelajaran dan praktek siswa di bagian tata boga, busana, kecantikan, dan perhotelan.
Sebelumnya melakukan kegiatan penguatan kapasitas HAM bagi guru dan jajaran manajemen SMKN 9 Bandung yang digelar pada Senin (12/10/2026). Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (Kakanwil Kemham) Jawa Barat, Hasbullah Fudail, hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut.
Dalam pemaparannya, Hasbullah menekankan pentingnya kepekaan guru dan manajemen sekolah terhadap kondisi peserta didik, tidak hanya selama berada di lingkungan sekolah, tetapi juga terhadap lingkungan pergaulan dan kehidupan mereka di luar sekolah.
Menurut Hasbullah, sekolah perlu memiliki kepedulian yang lebih luas terhadap perkembangan peserta didik karena berbagai persoalan yang terjadi di luar sekolah pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap proses pendidikan dan citra lembaga.
“Guru dan manajemen sekolah perlu memiliki kepedulian terhadap kondisi dan perilaku siswa, termasuk ketika mereka berada di luar lingkungan sekolah. Bagaimanapun, perkembangan perilaku siswa di luar sekolah dapat memberikan dampak terhadap proses pendidikan dan juga reputasi sekolah,” ujar Hasbullah.
Ia menilai, perkembangan lingkungan pergaulan, teknologi informasi, dan media sosial membuat remaja semakin mudah terpapar berbagai informasi maupun pengaruh yang membutuhkan pendampingan dari orang dewasa, termasuk terkait perilaku seksual menyimpang sesama jenis.
Karena itu, Hasbullah mendorong seluruh keluarga besar SMKN 9 Bandung untuk meningkatkan langkah pencegahan dan pembinaan terhadap berbagai persoalan yang berpotensi memengaruhi perkembangan peserta didik. Menurutnya, pendekatan yang digunakan tidak cukup hanya melalui aturan dan pemberian sanksi, tetapi perlu diperkuat dengan pendekatan psikologis, keagamaan, dan kekeluargaan.
“Kita perlu melakukan upaya yang lebih serius dan terukur dalam menghadapi berbagai persoalan yang berkembang di kalangan pelajar, termasuk terkait perilaku seksual menyimpang sesama jenis. Pencegahan harus dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh, baik secara psikologis, keagamaan, maupun melalui pembinaan yang bersifat kekeluargaan,” katanya.
Hasbullah juga menekankan pentingnya kemampuan guru dalam melakukan deteksi dini. Interaksi guru dengan siswa yang berlangsung setiap hari dinilai menjadi modal penting untuk mengenali perubahan perilaku maupun persoalan yang sedang dihadapi peserta didik.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya mengawasi kedisiplinan siswa, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang terbuka sehingga siswa memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
“Guru memiliki peran penting dalam melakukan deteksi dini. Karena itu, guru perlu membangun komunikasi yang baik dengan siswa, mau mendengarkan, sekaligus peka terhadap perubahan pola perilaku mereka. Dengan begitu, ketika muncul persoalan, sekolah dapat memberikan pendampingan sedini mungkin,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hasbullah juga mengingatkan agar pemahaman mengenai HAM tidak dipersepsikan sebagai hambatan bagi sekolah dalam melakukan pembinaan. Menurutnya, sekolah tetap memiliki kewenangan untuk menegakkan tata tertib dan melakukan pembinaan sepanjang tindakan yang diambil sesuai dengan ketentuan hukum dan aturan yang berlaku.
Ia menegaskan, yang harus menjadi perhatian adalah cara sekolah melakukan pembinaan. Setiap tindakan harus mengedepankan penghormatan terhadap martabat peserta didik serta menghindari kekerasan, penghinaan, maupun perlakuan diskriminatif.
“Jangan sampai guru merasa ragu melakukan pembinaan karena khawatir dianggap bertentangan dengan HAM. Selama langkah yang dilakukan sesuai dengan koridor hukum dan aturan yang berlaku, pembinaan tetap dapat dilakukan. Yang terpenting, prosesnya harus dilakukan secara proporsional, humanis, dan mengedepankan pendekatan kekeluargaan,” tegas Hasbullah.
Sementara itu, Kepala SMKN 9 Bandung, Yudhy Hendayani, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas wawasan serta masukan yang diberikan Hasbullah Fudail kepada para guru dan jajaran manajemen sekolah.
Menurut Yudhy, kegiatan tersebut memberikan perspektif yang penting bagi sekolah dalam memperkuat kapasitas guru dan manajemen menghadapi berbagai dinamika yang berkembang di kalangan peserta didik.
“Kami menyampaikan terima kasih atas wawasan, arahan, dan masukan yang telah diberikan kepada kami. Apa yang disampaikan Pak Hasbullah memberikan perspektif yang sangat berarti bagi para guru dan jajaran manajemen dalam menjalankan tugas pendidikan dan pembinaan siswa,” ujar Yudhy.
Yudhy berharap pemahaman yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, sehingga seluruh unsur sekolah semakin mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif sekaligus memberikan pendampingan yang tepat kepada peserta didik.
Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari pencapaian akademik maupun kompetensi kejuruan, tetapi juga dari kemampuan sekolah membentuk karakter peserta didik yang memiliki sikap, moral, dan adab yang baik.
“Kami berharap wawasan yang diperoleh hari ini dapat menjadi bekal bagi para guru dan manajemen dalam mengelola sekolah dengan lebih baik. Tujuan akhirnya tentu bukan hanya mencetak siswa yang cerdas dan kompeten, tetapi juga siswa yang memiliki karakter kuat, berakhlak, dan tinggi adab,” tutur Yudhy.
Melalui kegiatan penguatan kapasitas HAM tersebut, SMKN 9 Bandung diharapkan semakin mampu membangun sistem pembinaan peserta didik yang mengedepankan pencegahan, deteksi dini, pendampingan, serta pendekatan humanis. Sinergi antara sekolah, guru, peserta didik, orang tua, dan berbagai pihak terkait menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, berkarakter, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, penguatan kapasitas HAM tidak hanya menjadi upaya meningkatkan pemahaman guru dan manajemen terhadap aspek hukum dan hak asasi manusia, tetapi juga menjadi landasan untuk menghadirkan pendidikan yang mampu membentuk generasi yang cerdas dalam segala aspek, berkarakter, dan tinggi adab.
• Red



