Oleh: Hasbullah Fudail.
Reportikaindonesia.com // Tasikmalaya, Jawa Barat – Pencinta Tarekat Perkembangan islam di Indonesia yang sedemikian cepat mampu mengubah peradaban dari sebagian besar pemeluk Animisme dan dinamisme, Budha dan Hindu menjadi pemeluk islam, tidak bisa dipisahkan dengan model pendekatan lewat gerakan tasawuf melalui berbagai tarekat.
Koentjaraningrat (1984) menyatakan bahwa dengan perantara para penyebar ajaran tasawuflah agama Islam di Indonesia dapat menyebar. Awal munculnya tasawuf di Indonesia pada mulanya tidak mudah ditentukan. Mereka adalah orang-orang yang telah
menjadi pengikut sebuah tarekat.
Salah satu tarekat yang perkembangannya banyak menjadi kajian penelitian adalah tarekat Idrisiyyah yang berada di kabupaten Tasikmalaya.
Alhamdulillah, berkesempatan bersama istri shalat ashar di masjid Al Fattah pusat tarekat Idrisyyah sekaligus Pondok Pesantren Idrisiyyah di kabupaten Tasikmalaya dalam rangka menghadiri walimahan anak Habib Abubakar Assegaf pengurus Pondok Dalwa Bangil Pasuruan , Sabtu.4 Mei 2024 di kota Tasikmalaya, Jawa Barat
Tarekat Idrisiyyah di kabupaten Tasikmalaya menjadi sesuatu yang menarik untuk kajian keilmuan tentang Perkembangan Tarekat di Indonesia, dengan beberapa aspek diantaranya:
- Memadukan Pondok Pesantren Berbasis Tarekat
Salah satu hal yang menjadi keunggulan tarekat ini yakni adanya laboratorium pondok pesantren untuk mengimplementasikan ajaran tarekat kedalam kehidupan para santrinya. Dengan demikian secara tidak langsung para santri menjadi Jemaah (aktif atau fasif) dari tarekat Idriisiyyah. Menurut catatan dari Bruinessen, tarekat Idrisiyyah dibawa oleh salah satu kiai asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang bernama Syekh Akbar Abdul Fattah yang telah berguru langsung kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi di Jabal Abu Qubais Mekkah, dan menyebarkannya di Tasikmalaya pada tahun 1930.
Tarekat Idrisiyyah yang dibawa oleh Syekh Akbar Abdul Fattah merupakan tarekat yang serupa dengan Tarekat Sanusiyyah di Afrika Utara.Ponpes Idrisiyyah ini telah berdiri sejak tahun 1932 M. Ponpes ini tidak hanya menyelenggarakan pendidikan agama saja melainkan juga dengan pendidikan umum. - Gerakan Ekonomi -Sosial melalui Qini Mart (Mini Market) Peran penting Tarekat Idrisiyyah diera 1980-an hingga sekarang adalah gerakan dalam bidang sosial dan perekonomian. Tahun 1986, tarekat Idrisiyyah mendirikan sebuah gerakan dakwah dalam bidang perekonomian berupa Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), serta sebuah warung kelontong pada 1987 yang dikelola oleh pengurus Yayasan Al-Idrisiyyah. Usaha warung kelontong berubah menjadi unit usaha ritel minimarket dengan nama Qini Mart diera 2000-an.

Proses pengubahan nama bersamaan dengan modernisasi pada 2003 berupa pengadaan
alat komputer untuk mempermudah proses perhitungan dan manajemen barang yang akan diperjualbelikan. Sekitar tahun 2007, Qini Mart mulai membangun sistem yang lebih modern dengan menggunakan sistem Convinience Store seperti yang digunakan banyak usaha ritel modern. Selain itu, ekspansi ekonomi dilakukan oleh Qini Mart dengan membangun berbagai cabang dan menjalin kerja sama dengan masyarakat sejak 2012 hingga sekarang. Skripsi Muhammad Akmal Ashari “Pesantren dan Bisnis: Qini Mart Tarekat Idrisiyyah sebagai Wadah Pengembangan Ekonomi Umat di Tasikmalaya, 1980-2017.
- Pengembangan Ilmu Tarekat melalui Media Massa di TVRI dan Sosial You Tube, Instagram, Face Book dll .
Penggunaan media massa dan media online dalam berbagai kegiatan pengajian yang disampaikan langsung oleh Mursyid Syech Akbar Muhammad Faturrahman menjadi kekuatan penting dalam menyiarkan dan menyebarkan hasil pemberitaan .
Salah satu yang menjadi acara unggulan di TVRI saampai saat ini adalah Serambi Islam dengan menghadirkan Muhammad Faturrahman sebagai naras umber tetap dengan banyak mengupas tentang Tasawuf . - Tuan Rumah Pertemuan Sufi Dunia “Kota Sufi 2.0” Januari 2024
Pondok Pesantren Idrisiyyah di Tasikmalaya menjadi tuan rumah pertemuan dengan peserta ribuan ulama sufi dari penjuru dunia pada Januari 2024 . Pertemuan para ulama sufi ini digelar dengan tajuk Kota Sufi 2.0 di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Idrisiyyah, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Pertemuan tersebut merupakan gelaran pertama kalinya di Indonesia, mengingat gelaran perdananya yang bertajuk Kota Sufi 1.0 digelar di Malaysia pada Agustus 2023 lalu. - Ketokohan Mursyid Tarekat Idrisiyyah Syech Akbar Muhanmad Faturrahman
Mursyid (pimpinan) tarekat Idrisiyyah Syeck Akbar Muhammad Faturrahman menjadi salah satu tokoh intelektual di bidang tasawuf saat ini. Beraneka ragam kajian tentang tasawuf bisa diakses dari berbagai pemberitaan TVRI, online, You Tube Face Book dan lain-lain.
Selain itu Muhammad Faturrahman juga telah banyak menulis buku buku tentang tasawuf yang pembahasannya sangat aktual dan mudah dipahami bagi pemula dan pencinta ilmu tasawuf.
Semoga dapat menjadi inspirasi untuk tarekat tarekat mutabarah dalam mengelolah berbagai potensi dan asset yang dimiliki, Amien
• Red



