Reportikaindonesia.com // Bandung, Jawa Barat – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) Jawa Barat, Hasbullah Fudail, menyiapkan terobosan baru dalam penguatan pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) di kalangan pelajar. Untuk pertama kalinya di Indonesia, pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat HAM (LCC HAM) diarahkan tidak hanya sebagai kompetisi, tetapi juga menjadi pintu lahirnya Duta HAM dari kalangan pelajar yang akan berperan dalam membumikan nilai-nilai HAM.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari pengembangan LCC HAM sebagai wadah untuk menemukan pelajar yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan komitmen terhadap nilai-nilai HAM. Para pelajar yang berhasil meraih prestasi dalam kompetisi tersebut nantinya akan diberikan ruang untuk mengambil peran lebih luas sebagai agen perubahan di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
Menurut Hasbullah, LCC HAM tidak boleh berhenti ketika perlombaan selesai. Pengetahuan yang diperoleh para peserta harus dapat diteruskan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita ingin LCC HAM ini bukan sekadar perlombaan. Ini menjadi langkah awal untuk melahirkan agen perubahan dan Duta HAM dari kalangan pelajar yang nantinya ikut membumikan HAM,” ujar Hasbullah.
Konsep tersebut sekaligus menjadi pembeda dalam pelaksanaan LCC HAM. Pelajar tidak hanya diuji mengenai sejauh mana mereka memahami konsep dan prinsip HAM, tetapi juga dipersiapkan untuk memiliki keberanian mengambil peran di tengah lingkungan sebayanya.
Para pelajar yang nantinya dipercaya sebagai Duta HAM diharapkan mampu menjadi teladan dalam membangun budaya penghormatan terhadap martabat manusia. Mereka dapat mengambil peran dalam mengedukasi teman sebaya mengenai hak dan kewajiban, mendorong sikap antiperundungan, menolak diskriminasi, membangun toleransi, serta menyelesaikan persoalan secara damai.
Hasbullah menilai pendekatan melalui pelajar memiliki arti penting. Generasi muda memiliki ruang pergaulan yang luas dan komunikasi yang dekat dengan teman sebaya. Karena itu, pesan mengenai HAM akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh sesama pelajar dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka.
Pengembangan LCC HAM menjadi jalur menuju Duta HAM tersebut diharapkan menjadi model perdana di Indonesia dalam menghubungkan kompetisi pendidikan HAM dengan pembentukan agen perubahan muda.
Rencana tersebut akan dikembangkan melalui kegiatan lanjutan yang diproyeksikan berlangsung pada akhir September 2026. Para pelajar akan mendapatkan ruang untuk memperkuat pemahaman sekaligus mempersiapkan diri agar mampu menjalankan peran sebagai penggerak HAM.
Bagi KemenHAM Jawa Barat, keberadaan Duta HAM bukan sekadar simbol atau gelar. Mereka diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas pendidikan HAM secara berkelanjutan.
“Duta HAM harus mampu membawa HAM keluar dari ruang perlombaan. Masuk ke sekolah, masuk ke lingkungan pertemanan, dan kemudian hadir di tengah masyarakat,” kata Hasbullah.
Melalui konsep tersebut, LCC HAM diarahkan untuk menciptakan efek berantai dalam pendidikan HAM. Pelajar yang mendapatkan pengetahuan tidak hanya menyimpannya untuk kepentingan perlombaan, tetapi membagikannya kembali kepada lingkungan.
Satu pelajar diharapkan dapat mengajak pelajar lainnya memahami pentingnya menghormati hak sesama. Dari sana, sekolah dapat membangun budaya yang lebih aman, inklusif, nondiskriminatif, dan ramah HAM.
Hasbullah juga menekankan bahwa memahami HAM harus berjalan seiring dengan kesadaran terhadap kewajiban. Setiap orang memiliki hak, tetapi pada saat yang sama memiliki tanggung jawab untuk menghormati hak orang lain.
Karena itu, Duta HAM dari kalangan pelajar diharapkan mampu menjadi contoh dalam menerapkan keseimbangan tersebut, baik dalam kehidupan sekolah maupun kehidupan sosial.
Pada akhirnya, KemenHAM Jawa Barat berharap LCC HAM dapat berkembang menjadi sebuah gerakan pendidikan HAM yang berkelanjutan. Perlombaan menjadi pintu masuk, prestasi menjadi awal, dan Duta HAM menjadi penggerak untuk membumikan nilai-nilai HAM di tengah generasi muda.
• Red



